9F 9F 9F
.
.
.
" Walau hidup tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi yakinlah semua akan berjalan dengan indah "
.
.
.

Minggu, 15 Desember 2013

Yang Akan Berakhir

Yang Akan Berakhir

Di antara keheningan, semua masih tetap sama. Seperti jam pelajaran pertama hingga terakhir di hari sebelumnya dan jauh sebelumnya. Masih tetap terasa jenuh dan sangat membosankan. Hanya bisa menatap sekelilingku. Sama, semua diam di posisi monoton. Duduk di bangku penuh sekat. Sekat peraturan-peraturan yang haram untuk dilanggar. Suara dentuman bola yang dimainkan anak-anak di luar sana terasa mengganggu. Dengan bebasnya tanpa mempedulikan kami yang terukurung di sini. Semakin membuyarkan konsentrasiku. Konsentrasi yang awalnya retak, kemudian bercabang, dan akhirnya pecah ketika sebuah tanya hinggap tepat diantara keping-keping konsentrasi yang masih tersisa. Kemana suara kicauan bahagia burung-burung yang keluar dari sarangnya? Mereka yang selalu melengkapi ceria sang mentari ditemani tetesan embun mungil pembawa ketenangan pagi. Kemana mereka? Apakah mereka sudah punah? Karena ulah manusiakah? Karena ketidakpuasan manusia? Atau mungkin pagi ini mereka sedang bermalas-malasan? Dan satu, dua, tiga, ah masih terlalu lama. Mungkin semua makhluk di sekelilingku akan menganggapku gila jika aku benar-benar menghitung menit demi menit atau bahkan detik demi detik hal monoton ini akan berakhir.

“Via!” suara dengan nada tinggi menyadarkanku dari lamunan penantianku. Suara seseorang yang memang tak kuperhatikan semenjak kedatangannya. Menegurku, menatapku dengan kejamnya. Tatapan penuh peringatan agar aku memperhatikan. Seolah aku adalah musuh yang berada tepat 5cm di depannya. Tanpa menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya dan benar-benar terjadi detik itu juga. Tepat.
“Sampai kapan kamu melamun, Via? Lihat teman-temanmu! mereka sudah mengerjakan tugas yang saya beri. Sedangkan kamu?” aku hanya terdiam gugup tanpa satu katapun dapat terlontar. Ya, aku Via Dena Damayanti, salah satu siswi kelas 8 SMP Harapan, memang sudah cukup bosan dengan pelajaran ini. Membahas permasalahan negara, nasionalisme, patriotisme, dan tentang semua yang tak pernah kuperhatikan.
Dengan wajah yang mungkin sudah pucat disertai keringat dingin, aku melirik meja teman sebelahku. Kulihat di sana ada selembar kertas penuh goresan tinta yang nampaknya baru saja ia letakkan. Ku alihkan pandanganku ke papan tulis yang ada di depan sana. Tepat di sampingnya masih tetap menatapku, sesorang yang beberapa menit yang lalu menegurku. Di papan tulis itu pula tertera 15 soal yang harus dikerjakan. Kelimabelas soal itu selalu diakhiri dengan kata yang sama, jumlah huruf yang sama, bentuk tulisan yang sama, dan tentunya memiliki maksud yang sama. Kata itu adalah “Jelaskan!”. Ya, kata yang mungkin hampir semua murid membencinya. Sudah jelas jawaban dari soal-soal itu akan lebih panjang dari segala hal yang panjang. 40 menit waktu untuk mengerjakannya. Ku tengok jam dinding dan 30 menit sudah berlalu! Segera ku ambil alat tulisku. Benar, aku sama sekali tidak mengeluarkan satupun alat tulisku sedari tadi. Di detik yang sama, jantungku berdegup semakin kencang ketika melihat tidak ada barang yang aku cari, tempat pensil beserta isinya di dalam tasku.

Kini yang terdengar hanya suara keras yang hampir setiap hari aku dengar. Semakin keras dan keras. Aku hafal suara ini. Kucoba memahaminya. Tetapi semakin sulit. Dalam sekejap saja, semua menghilang. Guru, teman-temanku, kelas, papan tulis, dan semuanya menghilang. Hanya ada gelap dan suara ini. Semakin menggangguku. Memaksaku untuk terus mengikutinya. Pikiranku terpusat pada suara itu. Terus berpikir dan akhirnya perlahan terang mulai menyapaku. Sedikit demi sedikit mataku terbuka. Tetapi belum sepenuhnya ketika aku menyadari bahwa semua hal tadi hanyalah mimpi. Masih sempat kutatap kamar mungilku. Entahlah seperti apa. Tetapi yang jelas ini lebih dari sekedar berantakan. Semua barang berada tidak pada tempatnya. Sama sekali tidak ada niatan untuk membereskannya. Atau sekedar meluangkan sedikit waktu untuk mengembalikan barang-barang sesuai pada tempatnya.
Fajar menyemburat tipis, merah berseri berpadu dengan awan-awan putih berombak. Cerah, ceria, dan sempurna. Samar terdengar kicauan burung-burung kecil seakan menyampaikan berita kegembiraan. Mencengkeram sehelai jerami kering kecoklatan untuk membuat sarang dan beberapa sebagian sibuk mencari makan. Kembali teringat mimpiku semalam, tentang aku yang mengira mereka sudah punah ditelan jaman. Ternyata tidak, masih terlihat jelas tawa mereka. Dengan ocehan khas menggunakan bahasa mereka, tentu sulit untuk mengartikannya. Udara sejuk menyelinap melewati celah-celah kecil jendela kamarku. Memaksaku menghirupnya dan mengisyaratkan bahwa pagi telah tiba. Kegiatan-kegiatan berat dan monoton harus kembali kujalani. Tetapi syukurlah ini hari Minggu. Hari ini tidak terlalu berat. Setidaknya ada waktu beberapa jam untuk terbebas dari sekat peraturan sekolah. Namun tetap saja pekerjaan-pekerjaan rumah baik PR maupun rutinitasku sebagai seorang anak tunggal dari sebuah keluarga kecil sederhana di salah satu desa di dekat pusat kota bantul tetap harus ku tuntaskan. Hidup sebagai anak tunggal bukan berarti semua dituruti, bukan berarti terbebas dari tugas-tugas selayaknya remaja pada umumnya. Kupikir tidak ada salahnya melewatkan satu hari Minggu kali ini saja untuk bersantai. Toh seminggu ini aku sudah cukup dipusingkan dengan puluhan tugas yang harus selesai dalam beberapa hari saja.
Malas rasanya untuk sekedar bangun dan menghirup udara segar di luar sana. Aku lebih memilih membuka jendela yang berada di dekat kasur tipisku dan kembali merebahkan tubuh. Hanya beberapa menit saja aku menikmati waktu santaiku, semua rencana untuk bersantai hari ini gagal total. Selain karena alasan kewajibanku sebagai seorang muslim dan tugasku sebagai seorang anak, beberapa detik yang lalu ponselku berdering. Teman sekolahku, tepatnya teman sebangkuku mengirim pesan singkat atau short message service atau juga bahasa terkininya yaitu SMS. Ia mengingatkanku bahwa pagi ini jam tujuh sesuai perjanjian dan rencana, aku dan dia akan melakukan wawancara kepada pengusaha rumahan untuk melunasi tugas pelajaran Bahasa Jawa yang besok pagi harus dikumpulkan. Terbesit rasa malas untuk membalasnya dan akhirnya ponselku kembali kuletakkan. Kantuk masih setia menemaniku dan seolah berlagak ingin menjadi teman yang baik pula, aku mengikutinya hingga telingaku dipaksa mendengar suara-suara keras di luar sana. Suara Ibuku dan satu orang lain, aku kenal, biasa ku dengar. Suara teman sebangkuku.

Awalnya aku hanya menganggap biasa, hingga datang suatu ingatan tentang sesuatu yang benar-benar harus aku perhatikan. Hinggap tepat di tengah otakku. Tanpa berpikir panjang segera kuambil handuk dan lari ke kamar mandi. Sudah pukul tujuh lebih lima belas menit. Entah apa saja yang akan Ibu dan temanku bicarakan. Kemungkinan besar tentangku. Tentu saja karena aku masih tertidur lelap ketika temanku datang. Beribu alasan sudah aku siapkan. Sebagai tameng untuk melindungi diriku dari makian temanku atau mungkin nasihat-nasihat panjang Ibu yang jarang aku dengarkan.
Selangkah masuk ke kamar mandi, terasa jelas suatu keganjilan. Ada yang aneh. Seperti baru pertama kali melihat kamar mandi ini, ku tunjuk-tunjuk seisi kamar mandi. Semakin terasa ganjil. Ya, hanya tersisa sedikit air di bak mandi dan sabun, shampoo, pasta gigi, habis! Tak ingin dipusingkan, segera saja ku pakai semua yang tersisa. Menghindari semua resiko yang lebih parah dengan melakukan semuanya secepat kilat. Tetapi tenang, “kambing aja nggak mandi masih enak dimakan kok”. Prinsip itu yang selalu menenangkanku ketika aku dihadapkan dengan persoalan mandi. Dan untuk menghindari komentar pedas temanku, ku semprotkan parfum sebanyak-banyaknya. Pagi yang cukup mendebarkan.
Sejauh ini, hingga pertengahan wawancara, semua lancar mulus tanpa kendala. Kecuali ketika awal kedatangan kami, kami sudah berbahasa resmi, sesuai prosedur wawancara, ternyata orang yang kami ajak berbicara itu bukan orang yang akan kami wawancarai. Orang itu adalah tetangganya yang juga bekerja di sana dan sedang beristirahat duduk di depan rumah narasumber kami. Sungguh memalukan. Hingga kini saatnya aku yang mendapat giliran bertanya. Selesai melontarkan pertanyaan, ekspresi Ibu Saniah yang kami wawancarai berubah. Dan tangispun pecah. Penuh kebingungan dan hanya saling menatap dengan Nita, teman sebangkuku sekaligus teman yang sedang mewawancarai Ibu Saniah sebagai narasumber untuk bahan wawancara “Usaha Rumahan Kue Bolu” kali ini. Apakah ada yang salah dengan pertanyaan “Sudah sampai kemana saja produk ini dipasarkan, Bu?” ? Bukankah sedari tadi ketika temanku menanyakan awal mula usaha ini berdiri, bagaimana cara mendapat modal awalnya, apa saja kendala usaha ini, dan banyak lagi pertanyaan yang seharusnya lebih mengharukan dibanding pertanyaanku dijawab dengan ceria? Membingungkan dan terus berlanjut hingga kami berpamitan. Dapat disimpulkan tugas hari ini sudah selesai. Berakhir.
Malam harinya, masih saja salah tingkah mengingat apa yang terjadi hari ini. Sempat terselip rasa bersalah karena membuat Ibu membingungkan itu menangis tetapi bagaimana lagi, aku juga tidak tahu apa yang salah. Segera saja kubuang rasa bersalahku dan berniat memanjakan tubuhku yang sudah terlalu lelah karena kegiatan seharian ini dengan beristirahat. Namun, tanganku tiba-tiba saja mengambil ponselku. Tidak ada apa-apa. Tetapi ku urungkan niatku untuk mengembalikan ponselku ke tempat semula. Kubuka akun facebook yang sudah beberapa minggu sama sekali tak pernah ku buka, atau hanya untuk melihat beberapa detik saja tidak sempat. Baru saja membuka facebook, tertera sebuah status di urutan paling atas. Status Nala, siswa kelas tetangga, ia anak 8G dan aku 8F. Ia siswa yang pandai. Sering meraih ranking 1 di sekolah. Ia juga ramah. Dan statusnya kali ini cukup menarik. Tanganku refleks dengan lincah mengetik kata-kata untuk mengomentarinya. Percakapan di dunia maya malam itu terasa menyenangkan.
Percakapan itu terus berlanjut hingga pagi harinya ia mengatakan bahwa ia ingin meminjam buku catatan PKn. Sedangkan aku sadar buku catatan PKnku kosong. Hanya ada beberapa catatan dengan tulisan yang entahlah akupun sulit untuk membacanya. Namun tetap ku “iya” kan permintaannya. Dengan jawabanku itu pula aku sudah dapat membayangkan bagaimana ekspresinya ketika melihat buku PKnku nantinya. Benar saja, ketika jam istirahat pertama hari itu, di tengah celotehan-celotehan dan teriakan jahil teman-teman sekelasku, Nala menerima buku catatanku dan seketika jelas ekspresinya berubah. Jelas terlihat kecewa diselimuti senyum manisnya berusaha menenangkanku. Dengan ucapan terimakasih ia keluar dari kelasku bersama teman akrabnya. Entah apa alasannya, buku itu masih ia bawa. Padahal jelas isi dari buku catatanku yang ia bawa tersebut tidak ada gunanya. Sontak pertanyaan-pertanyaan penasaran teman-temanku terlontar. Semua pertanyaan itu aku jawab dengan tegas dan sesuai keadaan apa adanya, aku dan Nala hanya teman biasa. Memang kami remaja, tetapi bukan berarti berteman bisa dianggap lebih sesuka hati.
Hari demi hari berlalu dan pertanyaan yang sama terus saja ku dengar. Tentang hal yang sama. Aku dan Nala. Awalnya aku selalu dengan tegas mengatakan tidak. Namun aku juga bosan menjawab dengan kata-kata yang sama tetapi mereka selalu mengatakan hal yang bertolak belakang dengan yang aku katakan dan aku alami. Akhir-akhir ini juga banyak ocehan di dunia maya yang menyudutkanku, menyindirku, bahkan ada juga mereka yang terang-terangan menyebut namaku.
Melelahkan mengingat apa yang terjadi setiap harinya. Seperti dikepung musuh kemanapun aku pergi. Mereka yang awalnya selalu ramah dan bahkan sering bercanda denganku, kini berbeda hanya karena gosip-gosip itu. Seketika carut marut perasaanku sirna ketika di ujung jalan yang ku lalui setiap harinya, kali ini berbeda. Ada sesuatu disana. Berdiri dengan kokoh dan gagahnya. Memberiku senyum ceria berpadu dengan awan-awan kecil putih bersih yang menari-nari di atasnya. Mereka yang selalu bersama, disatukan oleh perbedaan. Tiga serangkai yang menakjubkan. Ya, Merapi, Merbabu, dan Sumbing. Terkadang membawa duka, namun mengagumkan ketika mereka menunjukkan keindahannya. Terimakasih, Tuhan. Kau ijinkan hari ini sejenak aku melupakan perkara yang selalu menggelayuti pikiranku dengan menunjukkan kuasa-Mu.
Di jalan itu pula, aku berpapasan dengan Nala. Ia menghentikanku dan mengeluarkan dua buku dari tasnya, satu buku aku kenal, itu buku catatan PKnku. Hampir saja aku lupa besok pagi ada jadwal pelajaran PKn. Dan satu buku lain aku tidak mengenalnya.
“Via, ini buku kamu. Makasih ya. Meskipun aku bingung membacanya, tetapi lebih baik lah dari pada tidak mencatat sama sekali. Sudah beberapa minggu ini setiap ada jadwal pelajaran itu bertepatan dengan aku ada acara.” Nala memberikan dua buku itu kepadaku.
“Buku ini?” aku menunjukkan buku merah bergambar kartun kesukaanku yang diberikan Nala.
“Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasihku dan mungkin kenang-kenangan untukmu.”
“Terimakasih, Nala.” Dengan wajah polos penuh kebingungan aku mencoba mencerna kata-kata Nala. Dan di saat itu juga melintas tiga orang yang selalu membicarakanku di dunia maya setelah kabar kedekatanku dengan Nala heboh dibicarakan hanya karena percakapan di dunia maya. Mereka tiga siswi yang selalu bersama hingga jarang bersosialisasi dengan teman lainnya. Aku juga sudah bisa mengira apa yang akan terjadi setelah ini. Tepat, mereka lagi dan lagi membicarakanku. Biarlah, sampai mereka puas. Api yang sudah menyala jangan ditambah dengan bahan bakar yang membuat api itu semakin menyala dan mungkin berkobar hingga membakar segalanya. Cukup didiamkan atau disiram dengan air agar padam. Jika tak sanggup untuk menyiramnya, diamkan saja, waktu yang akan memadamkannya.
Kini aku baru mengerti maksud Nala mengatakan “Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasihku dan mungkin kenang-kenangan untukmu.” kemarin. Samar-samar terdengar berita bahwa Nala akan pindah ke Kalimantan karena orangtuanya ditugaskan di sana. Nala pun membenarkannya. Sore itu juga ia berangkat. Cukup menyesakkan. Ia adalah sahabat yang selalu siap sedia saling membantu denganku selama ini. Hari itu ia benar-benar menghilang tanpa kabar.
Cerita itu yang selalu muncul di benakku ketika aku membaca halaman pertama buku diary pemberian Nala. Ku tulis semua yang terjadi selama aku bersamanya. Kini, setelah sekian lama kepergiannya, pertanyaan-pertanyaan dan berita yang dulu selalu aku dengar perlahan mereda. Setiap pertanyaan yang sama hanya aku jawab dengan senyuman. Terserah nantinya mereka mengartikan apa. Karena untuk membela kejujuran tidak perlu menjelaskan jika pada akhirnya juga tidak dipedulikan. Lebih baik diam dan kebenaran akan membela kitayang jujur pada waktunya. Kemudian semua orang akan tahu apa yang sesungguhnya terjadi dari diam dan kebenaran yang sudah pada waktunya membela kita. Karena percayalah Tuhan sudah menuliskan, menggambarkan, dan menggariskan suratan takdir yang indah bagi setiap umant-Nya,
 Api yang dulu menyala, kini mulai padam. Padam karena waktu dan keadaan. Harus kami sadari, sekarang kami sudah anak-anak kelas Sembilan yang sebentar lagi akan menempuh Ujian Nasional. Tanpa adanya saling mendukung dan saling medoakan tentu saja sulit untuk mencapai hasil terbaik. Apalagi jika hanya mengutamakan permusuhan, tentu nihil hasilnya. Kini kami sudah saling memaafkan, bersahabat, dan melupakan permusuhan yang pernah terjadi. Hanya karena hal sepele jangan sampai merusak masa depan. Masa lalu cukup dijadikan pelajaran. Masa sekolah adalah masa-masa paling indah bumbu-bumbu permusuhan memang terkadang ada. Namun, jika berlarut-larut hanya akan menyesal pada akhirnya. Masa sekolah cukup dijalani dan dinikmati. Bagaimanapun itu yang akan kita kenang nantinya, saat kita tua. Dan kita akan tertawa geli mengingatnya. Bukan hanya kenangan indah yang akan berakhir. Kenangan pahit semacam permusuhan pun suatu saat nanti akan berakhir. Berusaha bersama, melangkah bersama, demi hasil yang membahagiakan nantinya. Begitu juga untukmu, Nala. Semoga kelak kita bertemu dengan kesuksesan di tangan. Semoga.
Apapun yang terjadi, kemarin, hari ini, esok, dan kapanpun, pasti akan berakhir. Entah dengan manis, pahit, asam, asin, atau apa sajalah. Karena hidup hanyalah drama dengan episode-episode yang tentunya memiliki akhir dengan disengaja atau tidak, baik dinanti maupun  tidak. Begitupun dengan drama itu sendiri, nantinya juga akan berakhir. Dan babak demi babak, alur cerita, tokoh, dan apa saja yang ada di dalamnya sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Ikuti saja alurnya, tanpa harus mengkhiri, semua juga akan berakhir. Hanya bagaimana kita menyikapinyanya. Setiap makhluk punya cara yang berbeda. Akhir manis atau pahit tergantung pribadi masing-masing detik ini juga dalam menghadapi ujian yang menerpa.
Nama   : Firda Rokhana A.
Kelas   : IXF / 05




Tidak ada komentar:

Posting Komentar